KELAS KTI | MENGENAL JENIS-JENIS METODE PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF


Mengenal Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif, dan Mix Method
Banyak mahasiswa merasa cemas ketika mendengar istilah metode penelitian.

Yang terbayang biasanya rumus statistik, tabel angka, transkrip wawancara, teori yang tebal, atau aturan penulisan yang terasa rumit.
Padahal, kalau dipahami pelan-pelan, metode penelitian sebenarnya tidak serumit itu.

Secara sederhana, metode penelitian adalah cara yang digunakan peneliti untuk menjawab pertanyaan penelitian secara teratur, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Jadi, metode bukan sekadar teknik mengolah data. Metode adalah cara berpikir yang membantu peneliti agar tidak asal menyimpulkan sesuatu.

Metode Itu Jalan, Bukan Tujuan
Salah satu hal penting yang perlu dipahami sejak awal adalah ini:
Metode adalah jalan, bukan tujuan.
Kalau penelitian diibaratkan sebagai perjalanan, maka metode adalah rute yang dipilih untuk sampai ke tujuan.

Masalahnya, rute yang tepat sangat bergantung pada tujuan perjalanan.

Karena itu, pertanyaan pertama yang harus dijawab bukanlah:
“Saya mau pakai metode apa?”
Tetapi:
“Masalah apa yang ingin saya jawab?”
Setelah masalah dan pertanyaan penelitian jelas, pilihan metode biasanya akan lebih mudah terlihat.

Dalam ilmu sosial, termasuk Hubungan Internasional, Ilmu Pemerintahan, Administrasi Publik, Komunikasi, Pendidikan, dan bidang sosial lainnya, ada tiga pendekatan penelitian yang paling sering digunakan:
1. Penelitian kuantitatif
2. Penelitian kualitatif
3. Penelitian mix method

Ketiganya bukan untuk saling dibandingkan mana yang paling hebat. Masing-masing punya fungsi, kelebihan, dan keterbatasan.

Penelitian yang baik bukan ditentukan oleh metode yang terlihat paling rumit, tetapi oleh kecocokan antara rumusan masalah, data, metode, dan analisis.

1. Penelitian Kuantitatif: Cocok Kalau Ingin Mengukur
Penelitian kuantitatif digunakan ketika peneliti ingin mengukur sesuatu.
Biasanya, pendekatan ini dipakai untuk menjawab pertanyaan seperti:
• Seberapa besar pengaruh suatu faktor?
• Apakah ada hubungan antara dua hal?
• Apakah ada perbedaan antara dua kelompok?
• Sejauh mana suatu gejala terjadi?
• Berapa tingkat, jumlah, atau persentasenya?

Ciri utama penelitian kuantitatif adalah datanya berbentuk angka.

Angka itu bisa berasal dari kuesioner, survei, skor penilaian, persentase, indeks, atau hasil pengukuran lain.

Setelah data terkumpul, peneliti biasanya menganalisisnya menggunakan statistik.
Contoh Sederhana Penelitian Kuantitatif
Misalnya seorang peneliti ingin mengetahui:
“Sejauh mana penggunaan media sosial memengaruhi persepsi publik terhadap isu keamanan di Laut Cina Selatan?”
Pertanyaan seperti ini membutuhkan pengukuran.

Peneliti perlu mengumpulkan jawaban dari banyak orang, mengubah jawaban tersebut menjadi angka, lalu melihat pola yang muncul.
Dari situ, peneliti dapat mengetahui apakah penggunaan media sosial memiliki pengaruh terhadap persepsi publik atau tidak.
Istilah Penting dalam Penelitian Kuantitatif
Dalam penelitian kuantitatif, ada beberapa istilah yang sering muncul.

Variabel
Variabel adalah sesuatu yang dapat diukur dan nilainya bisa berbeda-beda.
Contohnya:
• Intensitas penggunaan media sosial
• Tingkat kepercayaan publik
• Persepsi terhadap kebijakan pemerintah
• Sikap terhadap isu internasional
Biasanya ada dua jenis variabel utama:
• Variabel bebas, yaitu faktor yang diduga memengaruhi.
• Variabel terikat, yaitu faktor yang dipengaruhi.
Misalnya dalam penelitian tentang media sosial dan persepsi publik:
• Penggunaan media sosial = variabel bebas
• Persepsi publik = variabel terikat
Indikator

Kadang sebuah variabel terdengar abstrak.
Misalnya, “persepsi publik”.
Pertanyaannya: bagaimana cara mengukur persepsi publik?

Di sinilah indikator digunakan.
Indikator adalah tanda atau ukuran konkret untuk menjelaskan variabel yang masih abstrak.

Contohnya, persepsi publik bisa diukur melalui indikator seperti:
• Tingkat kepercayaan terhadap informasi
• Sikap terhadap aktor yang terlibat
• Dukungan terhadap solusi tertentu
• Penilaian terhadap kebijakan pemerintah

Dari indikator inilah pertanyaan kuesioner dapat disusun.

Hipotesis
Hipotesis adalah dugaan sementara yang akan diuji dengan data. Hipotesis bukan asal tebak.

Hipotesis biasanya disusun berdasarkan teori, penelitian terdahulu, atau logika ilmiah.
Dalam penelitian kuantitatif, sering dikenal dua bentuk hipotesis:
• H0 atau hipotesis nol, yaitu dugaan bahwa tidak ada pengaruh atau hubungan.
• H1 atau hipotesis alternatif, yaitu dugaan bahwa ada pengaruh atau hubungan.
Ada satu hal penting yang sering keliru dipahami.

Jika hasil analisis menunjukkan bahwa data tidak cukup kuat untuk membuktikan adanya pengaruh, istilah yang tepat adalah: Gagal menolak H0
Bukan:Menerima H0

Kenapa begitu?
Bayangkan seperti di pengadilan. Seseorang yang dibebaskan karena bukti tidak cukup bukan berarti pasti tidak bersalah. Bisa saja ia bersalah, tetapi buktinya belum cukup kuat.
Begitu juga dalam penelitian. Ketika H0 tidak ditolak, bukan berarti H0 pasti benar. Artinya, data yang tersedia belum cukup kuat untuk menolaknya.

Populasi, Sampel, dan Responden
Dalam penelitian kuantitatif, peneliti biasanya ingin melihat pola pada kelompok yang besar.
Karena itu, ada istilah populasi dan sampel.
Populasi adalah keseluruhan kelompok yang menjadi sasaran penelitian.

Sampel adalah sebagian dari populasi yang dipilih untuk mewakili populasi tersebut.
Orang yang mengisi kuesioner disebut responden.

Jumlah responden biasanya cukup banyak karena penelitian kuantitatif ingin melihat pola umum.

Validitas dan Reliabilitas
Agar hasil penelitian dapat dipercaya, alat ukur yang digunakan harus baik.
Ada dua istilah penting di sini:
• Validitas berarti alat ukur benar-benar mengukur hal yang seharusnya diukur.
• Reliabilitas berarti hasil pengukuran konsisten jika digunakan berulang.

Contoh sederhananya begini.
Kalau kita ingin mengukur berat badan, alat yang tepat adalah timbangan. Kalau menggunakan penggaris, tentu tidak valid.

Namun timbangan juga harus konsisten. Jika seseorang ditimbang berkali-kali dalam kondisi yang sama tetapi hasilnya selalu jauh berbeda, berarti alat itu tidak reliabel.

Kelebihan Penelitian Kuantitatif
Penelitian kuantitatif memiliki beberapa kelebihan:
• Hasilnya terukur dengan angka.
• Cocok untuk melihat pola pada kelompok besar.
• Dapat digunakan untuk menguji pengaruh atau hubungan.
• Hasilnya lebih mudah dibandingkan antar kelompok.
• Dalam kondisi tertentu, hasilnya dapat digeneralisasi.

Keterbatasan Penelitian Kuantitatif
Namun, penelitian kuantitatif juga punya keterbatasan.

Pendekatan ini sering kali kurang mampu menjelaskan alasan di balik angka.
Misalnya, sebuah survei menunjukkan bahwa banyak responden mendukung suatu kebijakan.
Tetapi angka itu belum tentu menjelaskan mengapa mereka mendukung kebijakan tersebut.
Selain itu, jawaban responden biasanya terbatas pada pilihan yang sudah disediakan dalam kuesioner.

Jadi, kuantitatif sangat kuat untuk mengukur, tetapi tidak selalu cukup untuk memahami makna secara mendalam.

Ringkasan Kuantitatif
Penelitian kuantitatif cocok digunakan ketika peneliti ingin:
• Mengukur pengaruh
• Mengukur hubungan
• Mengukur perbedaan
• Menghitung tingkat atau persentase
• Melihat pola umum pada banyak responden
Intinya: kuantitatif cocok kalau pertanyaan penelitian menuntut jawaban dalam bentuk angka.

2. Penelitian Kualitatif: Cocok Kalau Ingin Memahami
Jika kuantitatif membantu peneliti mengetahui “berapa besar” atau “seberapa banyak”, maka kualitatif membantu peneliti memahami bagaimana dan mengapa sesuatu terjadi.

Penelitian kualitatif digunakan ketika peneliti ingin menggali:
• Makna
• Pengalaman
• Strategi
• Proses
• Dinamika sosial
• Alasan di balik tindakan
• Pandangan atau pemahaman seseorang

Fokus utama penelitian kualitatif bukan menghitung, melainkan memahami.
Pendekatan ini berangkat dari pemikiran bahwa banyak gejala sosial terlalu kompleks jika hanya dijelaskan dengan angka.

Contoh Sederhana Penelitian Kualitatif
Misalnya peneliti ingin menjawab pertanyaan:
“Bagaimana strategi diplomasi Indonesia dalam mendorong respons ASEAN terhadap konflik Myanmar?”
Pertanyaan ini tidak cocok dijawab hanya dengan kuesioner.
Mengapa?

Karena strategi diplomasi melibatkan banyak hal, seperti aktor, kepentingan, norma kawasan, proses negosiasi, dokumen resmi, dan dinamika politik.

Untuk memahaminya, peneliti perlu membaca dokumen, melakukan wawancara, menelusuri konteks, lalu menafsirkan data dengan hati-hati.

Istilah Penting dalam Penelitian Kualitatif
Dalam penelitian kualitatif, istilah yang digunakan agak berbeda dari kuantitatif.
Fokus Penelitian

Dalam kualitatif, peneliti biasanya tidak terlalu menekankan istilah variabel.
Sebagai gantinya, peneliti menggunakan istilah fokus penelitian.

Fokus penelitian adalah batasan yang membantu peneliti agar pembahasan tidak melebar terlalu jauh.

Misalnya, jika topiknya diplomasi Indonesia dalam konflik Myanmar, peneliti perlu membatasi fokusnya.
Apakah yang dikaji adalah strategi Indonesia di ASEAN?
Apakah yang dikaji adalah peran diplomasi kemanusiaan?
Apakah yang dikaji adalah posisi Indonesia dalam mendorong konsensus kawasan?
Fokus yang jelas membuat penelitian lebih terarah.

Informa
Dalam penelitian kualitatif, orang yang memberikan data melalui wawancara biasanya disebut informan.
Informan berbeda dengan responden.

Responden biasanya menjawab pertanyaan yang sudah disediakan dalam kuesioner.
Informan memberikan informasi yang lebih dalam melalui wawancara, cerita, pengalaman, atau pengetahuan yang dimilikinya.
Informan tidak harus banyak.

Yang penting, informan dipilih karena dianggap memiliki pengetahuan, pengalaman, atau keterlibatan dengan topik yang diteliti.

Dalam penelitian tentang diplomasi ASEAN, misalnya, informan bisa berupa:
• Akademisi yang meneliti ASEAN
• Analis kebijakan luar negeri
• Diplomat
• Jurnalis isu internasional
• Peneliti lembaga kajian strategis

Purposive Sampling dan Snowball Sampling
Dalam kualitatif, informan biasanya dipilih dengan pertimbangan tertentu.
Salah satu teknik yang sering digunakan adalah purposive sampling.
Artinya, informan dipilih karena memenuhi kriteria yang sesuai dengan kebutuhan penelitian.

Ada juga snowball sampling.
Teknik ini digunakan ketika peneliti mendapatkan rekomendasi informan dari informan sebelumnya.
Misalnya, setelah mewawancarai seorang akademisi, peneliti mendapat rekomendasi untuk mewawancarai diplomat atau analis lain yang dianggap lebih memahami isu tersebut.

Data Jenuh
Pertanyaan yang sering muncul dalam penelitian kualitatif adalah:
“Berapa jumlah informan yang ideal?”
Jawabannya tidak selalu berupa angka pasti.
Dalam kualitatif, yang lebih penting adalah data jenuh.

Data disebut jenuh ketika informasi dari para informan mulai berulang dan tidak ada lagi temuan baru yang muncul.
Selama informasi masih berkembang, peneliti masih perlu menggali data.
Jika jawaban informan mulai serupa dan tidak ada informasi baru yang penting, itu menjadi tanda bahwa data sudah cukup.

Cara Mengumpulkan Data Kualitatif
Beberapa teknik pengumpulan data yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif adalah:
• Wawancara mendalam
• Observasi
• Studi dokumen
• Focus group discussion atau FGD

Data yang terkumpul biasanya berbentuk kata-kata, cerita, catatan lapangan, dokumen, atau rekaman wawancara.
Cara Menganalisis Data Kualitatif
Analisis dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan rumus statistik.

Prosesnya biasanya dilakukan secara bertahap.
Peneliti membaca data, memilih bagian yang penting, memberi label, mengelompokkan tema, lalu menafsirkan maknanya.

Secara sederhana, tahapannya bisa dipahami seperti ini:
1. Kondensasi data: memilih dan memadatkan data tanpa menghilangkan makna penting.
2. Koding: memberi label pada bagian data yang dianggap penting.
3. Kategorisasi: mengelompokkan kode ke dalam tema tertentu.
4. Interpretasi: menafsirkan makna dari data yang ditemukan.
5. Penarikan kesimpulan: menyusun temuan penelitian secara logis.
Karena penelitian kualitatif sangat bergantung pada tafsiran peneliti, keabsahan data menjadi sangat penting.

Menjaga Keabsahan Data Kualitatif
Ada beberapa cara untuk menjaga agar data kualitatif tetap dapat dipercaya.

Triangulasi
Triangulasi berarti membandingkan data dari beberapa sumber atau teknik yang berbeda.
Misalnya, hasil wawancara dibandingkan dengan dokumen resmi, berita, laporan lembaga, atau wawancara dari informan lain.
Tujuannya agar kesimpulan tidak hanya bergantung pada satu sumber.

Member Check
Member check berarti meminta informan memeriksa kembali ringkasan hasil wawancara atau tafsiran peneliti.

Tujuannya untuk memastikan bahwa peneliti tidak salah memahami maksud informan.

Kelebihan Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif memiliki beberapa kelebihan:
• Mampu menjelaskan proses secara mendalam.
• Cocok untuk memahami pengalaman dan makna.
• Dapat menangkap konteks sosial yang kompleks.
• Fleksibel dalam menggali data.
• Membantu memahami alasan di balik suatu peristiwa atau tindakan.

Keterbatasan Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif juga memiliki keterbatasan.
Temuannya tidak selalu mudah digeneralisasi karena jumlah informannya terbatas.

Selain itu, kualitas hasil penelitian sangat bergantung pada ketelitian dan kepekaan peneliti dalam membaca data.

Karena itu, anggapan bahwa kualitatif lebih mudah karena tidak memakai statistik sebenarnya keliru.

Kualitatif tetap membutuhkan ketelitian tinggi, terutama dalam membaca, mengelompokkan, dan menafsirkan data.

Ringkasan Kualitatif
Penelitian kualitatif cocok digunakan ketika peneliti ingin:
• Memahami proses
• Menggali pengalaman
• Menjelaskan makna
• Menafsirkan strategi atau dinamika sosial
• Menjawab pertanyaan “bagaimana” dan “mengapa”
Intinya: kualitatif cocok kalau pertanyaan penelitian menuntut pemahaman mendalam, bukan sekadar angka.

3. Mix Method: Cocok Kalau Ingin Mengukur Sekaligus Memahami
Pendekatan ketiga adalah mix method.
Mix method adalah pendekatan penelitian yang menggabungkan kuantitatif dan kualitatif dalam satu desain penelitian.

Pendekatan ini digunakan ketika peneliti membutuhkan dua jenis jawaban sekaligus:
• Jawaban berupa angka
• Jawaban berupa penjelasan mendalam
Dengan kata lain, mix method digunakan ketika peneliti ingin mengukur suatu gejala sekaligus memahami alasan di baliknya.
Mix Method Bukan Sekadar Survei dan Wawancara

Ada satu kesalahpahaman yang sering terjadi.
Banyak orang mengira mix method berarti sekadar memakai survei dan wawancara dalam satu penelitian.

Padahal, inti mix method bukan hanya menggunakan dua teknik pengumpulan data.
Inti mix method adalah integrasi data.

Artinya, data kuantitatif dan data kualitatif harus dipadukan untuk menghasilkan kesimpulan yang utuh.

Tanpa integrasi, penelitian itu hanya menjadi dua penelitian terpisah yang kebetulan digabung dalam satu laporan.

Contoh Sederhana Mix Method
Misalnya peneliti ingin menjawab pertanyaan:
“Sejauh mana media sosial memengaruhi persepsi publik terhadap konflik Laut Cina Selatan, dan bagaimana publik menjelaskan proses terbentuknya persepsi tersebut?”
Pertanyaan ini memiliki dua bagian.

Bagian pertama adalah:
“Sejauh mana media sosial memengaruhi persepsi publik?”
Bagian ini membutuhkan kuantitatif karena menuntut pengukuran.

Bagian kedua adalah:
“Bagaimana publik menjelaskan proses terbentuknya persepsi tersebut?”
Bagian ini membutuhkan kualitatif karena menuntut pemahaman mendalam.
Di sini, angka dari survei dapat menunjukkan pola umum, sedangkan wawancara dapat menjelaskan alasan di balik pola tersebut.

Tiga Desain Mix Method yang Sering Digunakan
Ada beberapa desain mix method, tetapi tiga desain berikut paling sering digunakan dalam penelitian sosial.

1. Sequential Explanatory
Desain ini dimulai dari kuantitatif, lalu dilanjutkan dengan kualitatif.
Biasanya, peneliti melakukan survei terlebih dahulu.
Setelah hasil survei diperoleh, peneliti melakukan wawancara untuk menjelaskan hasil tersebut.
Contohnya, survei menunjukkan bahwa sebagian besar responden mendukung kebijakan tertentu.
Kemudian, wawancara dilakukan untuk mengetahui alasan mereka mendukung kebijakan tersebut.
Pola sederhananya:
Survei dulu, wawancara kemudian.

2. Sequential Exploratory
Desain ini kebalikan dari sequential explanatory.
Peneliti memulai dari kualitatif, lalu melanjutkan ke kuantitatif.
Biasanya, peneliti melakukan wawancara terlebih dahulu untuk menemukan tema penting.
Setelah itu, tema-tema tersebut dikembangkan menjadi kuesioner dan diuji pada responden yang lebih banyak.
Pola sederhananya:
Wawancara dulu, survei kemudian.

3. Convergent Parallel
Dalam desain ini, data kuantitatif dan kualitatif dikumpulkan dalam waktu yang relatif bersamaan.

Setelah itu, hasil keduanya dibandingkan.
Tujuannya untuk melihat apakah hasil angka dan hasil wawancara saling mendukung, saling melengkapi, atau justru menunjukkan perbedaan.

Pola sederhananya:
Survei dan wawancara berjalan bersamaan, lalu hasilnya dibandingkan.
Istilah dalam Mix Method
Karena mix method menggabungkan dua pendekatan, istilah yang digunakan juga menyesuaikan tahap penelitian.

Pada tahap kuantitatif, peneliti menggunakan istilah:
• Populasi
• Sampel
• Responden
• Variabel
• Hipotesis
Pada tahap kualitatif, peneliti menggunakan istilah:
• Informan
• Fokus penelitian
• Data jenuh
• Koding
• Tema

Hipotesis biasanya hanya digunakan pada bagian kuantitatif.
Bagian kualitatif tidak bertujuan menguji hipotesis, tetapi memahami makna, alasan, atau proses.

Kelebihan Mix Method
Mix method memiliki kelebihan karena dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap.
Peneliti tidak hanya mengetahui pola umum dari angka, tetapi juga memahami penjelasan di balik pola tersebut.

Pendekatan ini sangat berguna ketika fenomena yang dikaji terlalu kompleks jika hanya dijelaskan dengan satu jenis data.
Keterbatasan Mix Method
Namun, mix method juga menuntut persiapan yang lebih besar.

Pendekatan ini biasanya membutuhkan:
• Waktu lebih panjang
• Sumber daya lebih banyak
• Kemampuan memahami kuantitatif dan kualitatif
• Perencanaan desain penelitian yang lebih matang
• Kemampuan mengintegrasikan dua jenis data
Karena itu, mix method sebaiknya dipilih hanya ketika rumusan masalah memang membutuhkannya.

Jangan memilih mix method hanya karena terlihat lebih lengkap, lebih canggih, atau lebih mengesankan.

Ringkasan Mix Method
Mix method cocok digunakan ketika peneliti ingin:
• Mengukur suatu gejala
• Memahami alasan di balik angka
• Menggabungkan data survei dan wawancara
• Menjelaskan hasil kuantitatif dengan data kualitatif
• Menghasilkan gambaran penelitian yang lebih utuh
Intinya: mix method cocok kalau penelitian membutuhkan angka sekaligus penjelasan mendalam.

Cara Memilih Metode Penelitian yang Tepat
Setelah memahami tiga pendekatan di atas, pertanyaan berikutnya adalah:
“Bagaimana cara memilih metode yang paling tepat?”
Jawabannya kembali ke prinsip awal:
Metode mengikuti rumusan masalah.
Bukan sebaliknya.

Banyak penelitian menjadi membingungkan karena peneliti memilih metode lebih dulu.
Misalnya, sejak awal sudah memutuskan ingin memakai kuantitatif, lalu baru mencari topik yang cocok.
Cara seperti ini sering membuat penelitian terasa dipaksakan.

Urutan yang lebih tepat adalah:
1. Tentukan masalah penelitian.
2. Rumuskan pertanyaan penelitian.
3. Lihat jenis jawaban yang dibutuhkan.
4. Baru pilih metode yang sesuai.
Perhatikan Kata Tanya dalam Rumusan Masalah
Cara sederhana untuk membaca arah metode adalah melihat kata tanya dalam rumusan masalah.

Jika pertanyaannya menggunakan kata seperti:
• Sejauh mana
• Seberapa besar
• Apakah ada pengaruh
• Apakah ada hubungan
• Apakah ada perbedaan
• Berapa tingkat
Maka penelitian cenderung mengarah ke kuantitatif.

Jika pertanyaannya menggunakan kata seperti:
• Bagaimana
• Mengapa
• Apa makna
• Bagaimana proses
• Bagaimana strategi
• Bagaimana pengalaman
Maka penelitian cenderung mengarah ke kualitatif.

Jika pertanyaannya menggabungkan keduanya, misalnya ingin mengetahui seberapa besar pengaruh sekaligus memahami alasan di baliknya, maka penelitian bisa mengarah ke mix method.

Tabel Perbedaan Singkat
Aspek Kuantitatif Kualitatif Mix Method
Tujuan utama Mengukur Memahami Mengukur dan memahami
Bentuk data Angka Kata, cerita, dokumen Angka dan narasi
Subjek penelitian Responden Informan Responden dan informan
Teknik umum Survei, kuesioner Wawancara, observasi, dokumen Survei dan wawancara
Analisis Statistik Koding dan interpretasi Statistik dan interpretasi
Cocok untuk Pengaruh, hubungan, perbedaan Proses, makna, pengalaman Pola umum dan alasan mendalam
Satu Topik Bisa Diteliti dengan Metode Berbeda
Hal penting lain yang perlu dipahami adalah satu topik bisa diteliti dengan pendekatan yang berbeda.
Yang membedakan bukan topiknya, tetapi pertanyaan penelitiannya.
Misalnya topiknya adalah media sosial dan persepsi publik.

Jika pertanyaannya:
“Sejauh mana penggunaan media sosial memengaruhi persepsi publik?”
Maka pendekatannya cenderung kuantitatif.

Jika pertanyaannya:
“Bagaimana publik membentuk persepsi politik melalui media sosial?”

Maka pendekatannya cenderung kualitatif.
Jika pertanyaannya:
“Sejauh mana penggunaan media sosial memengaruhi persepsi publik, dan bagaimana publik menjelaskan proses terbentuknya persepsi tersebut?”

Maka pendekatannya bisa menggunakan mix method. Jadi, jangan hanya melihat topiknya.
Lihatlah pertanyaan yang ingin dijawab.

Kesimpulan
Metode penelitian tidak perlu dipahami sebagai sesuatu yang menakutkan.
Pada dasarnya, metode adalah cara untuk menjawab pertanyaan penelitian dengan lebih terarah.

Penelitian kuantitatif cocok digunakan ketika peneliti ingin mengukur sesuatu, melihat hubungan, menguji pengaruh, atau membandingkan kelompok.
Penelitian kualitatif cocok digunakan ketika peneliti ingin memahami proses, makna, pengalaman, strategi, atau alasan di balik suatu fenomena.

Mix method cocok digunakan ketika peneliti membutuhkan keduanya: angka untuk melihat pola, dan penjelasan mendalam untuk memahami alasan di balik pola tersebut.
Pada akhirnya, penelitian yang baik tidak lahir dari metode yang terlihat paling rumit.
Penelitian yang baik lahir dari pertanyaan yang jelas, data yang tepat, analisis yang jujur, dan kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Memahami tiga pendekatan ini bukan berarti harus langsung menjadi ahli metode penelitian.
Setidaknya, pemahaman ini membantu kita membaca penelitian dengan lebih kritis dan menyusun penelitian sendiri dengan lebih percaya diri.

Ringkasan Cepat untuk Pembaca
Jika masih bingung memilih metode, gunakan panduan sederhana ini:
• Mau mengukur pengaruh, hubungan, perbedaan, atau tingkat? Pilih kuantitatif.
• Mau memahami proses, makna, pengalaman, atau alasan? Pilih kualitatif.
• Mau mengukur sekaligus memahami alasan di balik hasilnya? Pilih mix method.
Kuncinya: jangan mulai dari metode. Mulailah dari pertanyaan penelitian.

Untuk akses lengkap konten, klin link dibawah:

Postingan populer dari blog ini

KELAS KTI | TATA CARA MENULIS PENDAHULUAN OLEH: PURWASANDI, M.Si

KELAS KTI | Memahami Metodologi Penelitian oleh Siti Mawaddah Palamani, S.IP., M.Han

MENULIS LITERATURE REVIEW | TINJAUAN PUSTAKA SESUAI KAIDAH AKADEMIS